This is a place for me to write all that happen in the past, present, and future of my life and all the things in the world that i concern about...please enjoy!

Tuesday, September 16, 2008

Ya Allah, tunjukkanlah aku jalan yang terbaik...

Hidup dan berkeluarga di Komplek Chevron memang enak, tapi ada beberapa komentar yang kontradiktif dengan semua fasilitas yang disediakan disana...

Saat ini, yang aku harapkan adalah petunjuk agar Allah memberikan jalan yang terbaik untukku, baik untuk short term, middle term, dan long term untuk berkeluarga, perkembangan anak, dan kehidupan secara umum juga

dibawah ini adalah beberapa komentar yang aku dapatkan dari salah satu blog yang sering aku baca juga...


Ya Allah, tunjukkan aku jalan yang terbaik untuk hidupku....Amin.


pemula Berkata:
Juni 14, 2007 pukul 7:10 pm

engineer2 baru yang berasal dari jawa apalagi jakarta, wah dijamin gak betah tu di chevron Riau khususnya jika diletakkan di Duri(kecamatan kayak kandang kerbau, di jalanan aja bisa melihara ikan…heheheh…., tapi kalo komplek perumahannya selain di singgahi monyet ada gajah lho yang kadang2 berkeliaran… gak perlu ke kebun binatang….asyiik), Minas (daerah hutan banget nih, paling ntar rumahnya di komplek chevron di singgahi monyet..hihihi…ya mudah2an gak disinggahi ular dan harimau ), dan Dumai sono…..sepiiii…..apalagi kalo dah malam kayak kota mati……berbeda sangat jauh dari jakarta/jawa tentunya

kalo kerja , perginya jam 7 pagi pulang kerja jam 4/5 an, selebihnya berkumpul dengan keluarga atau berolahraga. kalo olah raga di kompleknya sehat mas, wil nya nyaman dan sejuk…banyak pohon (maklum bekas hutan dijadiin komplek perumahan )….tapi kalo terus2an kayak gini waaah…bosaaaan pastinya…makanya engineer baru dari jakarta/jawa hanya bertahan sebentar di chevron riau…..

kecuali orang2 dari daerah sini juga dan dari kecil jidup seperti ini, tentunya sudah terbiasa dengan kondisi ini…..

kalo orang chevron ke jakarta, wah kayak orang desa alias ndeso pergi ke kota mas…terbelalak melihat kota, wong biasanya yang mereka lihat hutan……semua dibeli……katrok mas kata si tukul…….hehehe….

tapi kalo diletakkan di rumbai(pusat administrasi) masih mendingan dekat dengan kota pekanbaru, ya bisa jalan ke mall lah…..

continue....



Creator Berkata:
Desember 3, 2007 pukul 2:40 pm
Kalo bole saya pgn mengomentari pendapatnya Pemula yang ngaku2nya anak pegawai Chevron. Kebetulan saya ini bekerja di chevron dengan level peringkat langsung di bawah manager, dengan kata lain posisi elit chevron pacific indonesia. Sebagai informasi, kebanyakan anak2 pegawai chevron itu emang gaya ngomongnya kayak si Pemula ini dan itu udah sering saya saksikan sehari2. Melihat tingkah mereka di jalan2 camp, arena bermain, n tiap malam minggu rame ga ketulungan kayak anak2 kampungan. Sayangnya walaupun banyak yg pinter2, orang2 Indonesia yang terlanjur terlalu lama mengabdi buat chevron, gaya pemikiran dan pola hidupnya itu mudah ditebak, no improvement from day to day. Tidak sedikit saya saksikan anak2 pegawai chevron tumbuh sebagai anak yg goblok dan pinternya cuma menghabiskan uang orang tuanya. Padahal orang tuanya kerja pada level2 bawahan, maaf.. emang kenyataan.

So, as resume, anyone who decide out of chevron should be a genius. Jika memutuskan untuk keluar dari chevron, rata2 memang mereka sudah mempersiapkan dengan matang sekali dan memiliki skill yg memang hebat. Tidak ada standard gaji besar kalo buat bekerja. Chevron menutupinya dengan memberikan banyak fasilitas n menghisap habis tenaga orang yang bekerja. Apa salahnya gaji besar dan fasilitas juga ditambah? Tapi chevron yg diagung2kan orang riau ini udah membuat daerah riau sendiri tergadaikan. Kalau memang ada skill, sebaiknya chevron (perusahaan amerika ini) dijadiin batu loncatan saja.

Mas, kerja di chevron itu banyak sedihnya. Keliatannya aja gaji besar, tapi bagi mereka yang haus pengetahuan, kerja di chevron itu sama dengan memberikan kedua tangan untuk dibelenggu selamanya. Pola pikir pegawainya mirip pola pikir pengemis, banyak duit tapi masih suka gratis. Mikirnya dibayarin perusahaan mulu, tapi gitu pensiun, uangnya habis ga karuan.

Tapi buat yang ada keberuntungan kerja di Chevron, lanjutkan saja asalkan punya planning yg mantap. Jangan berfikir untuk bekerja dengan orang selamanya. Punya otak kok ga dimanfaatkan benar2. Do it the best once in your lifetime. Jangan bersandar hanya pada satu tiang. Jangan pernah tergiur dengan gaji. Ukurannya bukan gaji, tapi waktu yang dihabiskan. Anyway, the hell with facility. It’s designed to blind employee and to make fool. Sori ngomong kyk gini, abis bener sih. Sekian. Silahkan
berkomentar.


Santori Malinton Berkata:
Juni 1, 2007 pukul 11:41 pm

Kerja di daerah remote seperti oil/gas atau mining, alasan utamanya memang buat hidup tentram sambil nabung. Kerja di JKT terlalu hectic. Lalin macet, tinggalnya jauh, lingkungan jg kurang bagus utk anak2. Buat para bujang/jomblo (maaf), memang akan merasakan problem jika memasuki bulan ke 4-6. Mulai timbul rasa bosan. Apalagi kalo lokasi terisolir. Saya pribadi melihat bottom line-nya. Kalo udah nyemplung di oil/gas/mining, sekalian basah aja. Jangan nanggung. Misalnya, masih mimpi balik kerja ke kota besar/Jakarta atau pindah ke sektor lain. Toh jika memang kita karyawan yg handal, masih ada ruang di atas. Namun memang butuh wkt dan kesabaran.

Saya mengenal baik bbrp rekan yg “berbakti” kepada industri oil/gas/mining di lokasi remote sana. Secara umum, bagi yg start-nya dari tengah, mereka cukup enjoy dg pekerjaan & hidup. Posting dari rekan “Pemula”, 31-May, bisa dijadikan gambaran. Namun, yg start dari 0 (katakan cuman punya modal pengalaman 1 thn, atau fresh-grad), masih sering bimbang akan ke mana selanjutnya. Naik ke atas sulit, sebab banyak pesaing dan butuh waktu lamaaa. Mo balik ke JKT, cuman bakal di gaji max 4 jt.

4 comments:

  1. istikharah,mas bas...
    and wait for the sign...sambil berikhtiar untuk yang terbaik

    ReplyDelete
  2. setelah istikharah langsung saja putuskan.. ambil Tripatra aja deh Bassss.. hahaha gw tidak membuat solusi gini..

    tapi apapun yg lo putuskan&jalani, pasti itu yg terbaik bas.. :)

    ReplyDelete
  3. @ radit and nisa,
    Yerp, mau istikharah utk diberikan petunjuk mana yg terbaik...

    Tripatra?? hehe...nanti ktmu lo nis djkt...

    Iya, semoga nanti keputusan gw adalah yg terbaik utk semuanya...amien :)

    ReplyDelete
  4. hhaha banyak denger cerita ttg chevron dari tmen2 gue.. katanya emang sadis.. ^^

    smoga sukses bas..

    ReplyDelete