This is a place for me to write all that happen in the past, present, and future of my life and all the things in the world that i concern about...please enjoy!

Saturday, September 1, 2007

Indonesian Referee Case in Malaysia

Case that happen in Kuala Lumpur few days ago, between Indonesian Karate Referee and 4 Polis Diraja Malaysia becomes to be bigger problem in Indonesia. Wednesday, 29 August 2007, many demonstrations happen in some cities in our country. In Jakarta, the demonstration happens in the front of Malaysian embassy, in Surabaya, and other cities also do as well. Malaysian athletes who are coming to Indonesia to follow the badminton tournament also got sweeping by the protester. As we know from Indonesian news in television, the Indonesian referee got bad injuries in his body and his head after he attacked by The Police Diraja Malaysia. He couldn’t and hadn’t told anything about the case that happens to him. But after he got rampaged, all of the Indonesian karate contingent decided to Walk-Out from the karate tournament in Kuala Lumpur, and went back to Jakarta, Indonesia.

After this case exposed in TV, Indonesian President, Susilo Bambang Yudhoyono invites the Malaysian Ambassador and Foreign minister to explain and have some talks about this problem. But, either ambassador or minister doesn’t want to apologize for this case. They said that this is not Malaysian government mistake, but it is an individual and personal problem. And they said, if this is not government mistake, so why do they have to apologize? This point makes Indonesian people angry to Malaysia.


But, this is the MOST IMPORTANT NEWS FOR INDONESIAN!!!!

I just got the information from Sarah's blog, who is my Malaysian friend at KL. She got the information from embassy there. What really happen is, the Indonesian referee was in the “black or restricted area” near to the tournament area at 3 am in the morning. So he was in the wrong place and in the wrong time also. When there were 4 Polis Diraja Malaysia who saw him in the black area, the Indonesian referee was running. Actually they wanna come to him asked for the reason why he was in that area. But when he ran, the Polis’ chase him. When he got chased, he fights the Polis’ before they got any explanation from him. That’s why these Polis’ fight back after him. And reason why their government doesn’t want to apologize, because they want to investigate and clarified first and find out who made mistake. If the government doesn’t make any mistake, why should they ask for apologize? That’s their opinion.

So, for us Indonesian, don’t get angry so fast before we know the real story and the truth of this case. Please, be patient, and think clearly. I hope this problem won’t make the bilateral relation between Indonesia and Malaysia worse. Don’t make any decision before we know the story from both sides, not only from our side. Be objective, don’t be subjective.


But....

Thank God, yesterday, gotta informations from TV and others, said that Malaysian Prime Minister Abdullah Ahmad Badawi phoned SBY The Indo President and gives apologize statement. SBY said that Badawi's apologize was enough for Indonesia. This is the news.


So, hope won't be any other problems between Indonesia and Malaysia in the future..

3 comments:

  1. Bas,ini ada pengalaman dari seorang wisatawan dari Indonesia di Malaysia.
    "Nama saya Budiman Bachtiar Harsa, 37 tahun, WNI asal Banten, karyawan di BUMN berkantor di Jakarta .

    Kasus pemukulan wasit Donald Peter di Malaysia, BUKAN kejadian pertama. Behubung sdr Donald adalah seorang "Tamu Negara" hingga kasusnya terexpose besar-besaran.

    Padahal kasus serupa sering menimpa WNI di Malaysia. BUKAN HANYA TKI Atau Pendatang Haram, tapi juga WISATAWAN.

    Tahun 2006, bulan Juni, saya dan keluarga (istri, 2 anak, adik ipar), pertama kalinya kami "melancong" ke Kuala Lumpur Malaysia . (Kami sudah pernah berwisata ke negara2 lain, sudah biasa dengan berbagai aturan imigrasi).

    Hari pertama dan kedua tour bersama Travel agent ke Genting Highland, berjalan lancar, kaluarga bahagia anak-anak gembira.

    Hari ketiga city tour di KL, juga berjalan normal. Malam harinya, kami mengunjungi KLCC yang ternyata sangat dekat dari Hotel Nikko, tempat kami menginap.

    Usai makan malam, berbelanja sedikit, adik ipar dan anak-anak saya pulang ke hotel karena kelelahan, menumpang shuttle service yang disediakan Nikko Hotel. Saya dan istri berniat berjalan-jalan, menikmati udara malam seperti yg biasa kami lakukan di Orchrad
    Singapore , toh kabarnya KL cukup aman.

    Mengambil jalan memutar, pukul 22.30, di dekat HSC medical, lapangan dengan view cukup bagus ke arah Twin Tower .

    Saat berjalan santai, tiba2 sebuah mobil Proton berhenti, 2 pria turun mendekati saya dan istri. Mereka tiba-tiba meminta identitas saya dan istri, saya balas bertanya apa mau mereka. Mereka bilang
    "Polis", memperlihatkan kartu sekilas, lalu saya jelaskan saya Turis, menginap di Nikko hotel. Mereka memaksa minta passport, yang TIDAK saya bawa. (Masak sih di negeri tetangga, sesama melayu, speak the same language, saya dan istri bisa berbahasa inggris, negara yg tak butuh visa, kita masih harus bawa passport?). Salah satu "polis" ini bicara dengan HT, entah apa yg mereka katakan dengan logat melayunya, sementara seorang rekannya tetap memaksa saya mengeluarkan identitas. Perliaku mereka mulai tak sopan dan Istri saya mulai ketakutan. Saya buka dompet, keluarkan KTP. Sambil melotot, dia tanya :"kerja ape kau disini?" saya melongo... kan turis, wisata. Ya jalan-jalan aja lah, gitu saya jawab. Pak
    polis membentak dan mendekatkan mukanya ke wajah saya: KAU KERJA APE? Punya Licence buat kerja?

    Wah kali dia pikir saya TKI ilegal. Saya coba tetap tenang, saya bilang saya bekerja di Jakarta , ke KL untuk wisata. Tiba-tiba salah satu dari mereka mencoba memegang tas istri, dan bilang: "mana kunci Hotel? "... wah celakanya kunci 2 kamar kami dibawa anak dan
    ipar saya yg pulang duluan ke hotel.

    Saya ajak mereka ke hotel yang tak jauh dari lokasi kami. Namun pak Polis malah makin marah, memegangi tangan saya, sambil bilang: Indon... dont lie to us. Saya kurung kalian...

    Jelas saya menolak dan mulai marah. Saya ajak mereka ke hotel Nikko , dan saya bilang akan tuntut mereka habis2an. sambil memegangi tangan saya, tuan polis meludah kesamping, dan bilang: kalian semua sama
    saja...

    Saat itu sebuah mobil polisi lainnya datang, pake logo polisi, seorang polisi berseragam mendekat. Di dadanya tertulis nama: Rasheed.

    Saya merapat ke pagar taman sambil memegang istri yang mulai menangis. Melawan 3 polis, tak mungkin. Mereka berbicara beritga, mirip berunding. Wah, apa polis malaysia juga sama aja, perlu mau nyari kesalahan orang ujung2nya merampok?

    Petugas berseragam lalu mendekati saya, meminta kami untuk tetap tenang. Saya bertanya, apa 2 orang preman melayu itu polisi, lalu polisi berseragam itu mengiyakan. Rupanya karena saya mempertanyakan
    dirinya, sang preman marah dan mendekati saya, mencengkram leher jaket saya, dan siap memukul, namun dicegah polisi berseragam.

    Polisi berseragam mengajak saya kembali ke Hotel untuk membuktikan identitas diri. saya langsung setuju, namun keberatan bila harus menumpang mobil polisi.

    Saya minta untuk tetap berjalan kaki menuju Nikko Hotel, dan mereka boleh mengiringi tapi tak boleh menyentuh kami. Akhirnya kami bersepakat, namun polisi preman yang sempat hampir memukul saya sempat berkata: if those indon run, just shoot them... katanya sambil
    menunjuk istri saya. Saya cuma bisa istigfar saat itu, ini rupanya nasib orang Indonesia di negeri tetangga yang sering kita banggakan sebagai "sesama melayu". Diantar polisi berseragam saya tiba di Nikko Hotel.

    Saya minta resepsionis mencocokan identitas kami, dan saya menelpon adik ipar untuk membawakan kunci. Pihak Nikko melarang adik saya, dan mengatakan kepada sang Polis, bahwa saya adalah tamu hotel mereka, WNI yang menyewa suites family, datang ke Malaysia dengan
    Business class pada Flight Malayasia Airlines. Pak Polis preman mendadak ramah, mencoba menjelaskan bahwa di Malaysia mereka harus selalu waspada.

    Saya tak mau bicara apapun dan mengatakan bahwa saya sangat tersinggung, dan akan mengadukan kasus ini, dan "membatalkan rencana bisnis dengan sejumlah rekan di malaysia " (padahal saya tak punya rekan bisnis di negeri sial ini).

    Polisi berseragam berusaha tersenyum semanis mungkin, berusaha keras untuk akrab dan ramah, petugas Nikko Hotel kelimpungan dan berusaha membuat kami tersenyum.

    Setelah istri saya mulai tenang, saya mengambil HP P9901 saya dan merekam wajah kedua polisi ini.

    Keduanya berusaha menutupi wajah, meminta saya untuk tidak merekam wajah mereka.

    Istri saya minta kita mengakhiri konflik ini, dan sayapun lelah. Kami tinggalkan melayu-melayu keparat ini, tanpa berjabat tangan.

    Sepanjang malam saya sangat gusar, dan esoknya kami membatalkan tur ke Johor baru, mengontak travel agent agar mencari seat ke Singapore . Siang usai makan siang, saya tinggalkan Malaysia dengan perasaan dongkol, dan melanjutkan liburan di Singapore .

    Mungkin saya sial? ya. Mungkin saya hanya 1 dari 1000 WNI yang apes di Malaysia? bisa. Tapi saya catat bahwa bila saya pernah dihina, diancam, bahkan hampir dipukuli, bukan tak mungkin masih ada orang lain mengalami hal yg sama.

    Jadi, kalau hendak berlibur di Malaysia , sebaiknya pikir masak2. Jangankan turis, Rombongan atlet saja bisa dihajar polisi Malaysia .
    Bayangkan bila perlakuan seperti ini dilakukan dihadapan anak kita. Tentu anak akan trauma, sekaligus sedih.

    Hati-hati pada PROMOSI WISATA MALAYSIA . Di Malaysia, WNI diperlakukan seperti Kriminal."

    Ironis ya!?
    Setahu gw belum pernah ada polisi Indonesia yang memperlakukan WNM seperti itu...
    Tp,tulisan tdi jangan memprovokasi kita untuk melakukan hal yang sama dengan mereka,ya ga!?
    Allahlah kan pernah menurunkan wahyu-Nya ketika paman Rasulullah SAW,Hamzah,terbunuh dalam perang dengan kondisi yang sangat mengenaskan (jantung tercecer,kaki tangan yang sudah tidak utuh).Dan Rasulullah ketika itu,berazam akan membalas dendam.Saat itu juga turun wahyu bahwa,jika ingin membalas,balaslah dengan hal yang wajar,artinya tidak berlebihan,dan jika bersabar,maka itu lebih baik.
    Jadi,bersabar aja atas kejadian di atas,sambil kita berusaha untuk menaikkan bergaining position kita dengan malaysia.
    Selama ini,kita masih banyak bergantung dengan malaysia.Jadi,bagaimana usaha kita kelak,ketika generasi kita menduduki pos2 penting di dalam legislator dan eksekutor pemerintah,agar bargaining position kita dapat naik melebihi atau paling tidak setaralah.
    Hal ini tidak berarti menjadikan malaysia sebagai musuh.Ya,hanya sebagai agar indonesia punya posisi tawar yang bagus.Jadi,klo diibaratkan indonesia dan malaysia itu adalah dua saudara muslim,dan sesama saudara,ya lo udah tahulah.
    Sip itu aja...
    Wallahu'alam,

    Sory,panjang komennya,pake masukin itu ceritu tadi soalnya,hehehe

    ReplyDelete
  2. thx dit for comment and the story, hope it will makes people more aware there...

    ReplyDelete
  3. i hope that this incident wont spoil the good relationtionship between the two countries....as a malaysian, i feel ashamed of what hd happened..i agree tht some ppl in malaysia r very prejudice..hopefully this negative mentality among the malaysians will change...if not, apa gunanya maju membangun dengan bangunan pencakar langit, tapi akhlaknya tidak setinggi mana?

    ReplyDelete